Senin, 12 Maret 2012

PSIKOLINGUISTK




I.  Pengertian psikologi menurut para ahlI

1. Hartley
Psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak dalam memproses dan mengkomunikasikan ujaran dan dalam akuisisi bahasa Hal yang penting adalah bagaimana memproses dan menghasilkan ujaran dan bagaimana akuisisi bahasa itu berlangsung. Proses bahasa berlangsung adalah pekerjaan otak. Yang tidak dimengerti dan tidak diketahui yang pasti ialah bagaimana proses pengolahan bahasa sehingga berwujud satuan-satuan yang bermakna dan bagaimana proses pengolahan satuan ujaran yang dikirim oleh pembicara sehingga dapat dimengerti pendengar. Yang pasti segala sesuatu berada dalambatabatas kesadaran (pembicara maupun pendengar).

2. Carles Osgood dan Thomas Sabeok
Psikolinguistik secara langsung berhubungan dengan proses kode dan mengkode seperti orang berkomukasi.

3. Robert Lado
psikolinguistik adalah gabungan melalui psikologi dan linguistik. Bagaimana telaah atau studi pengetahuan bahasa, bahasa dalam pemakaian , dan perubahan bahasa. Menurut Lado psikologi hanya merupakan pendekatan. Pendekatan untuk menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa dan perubahan bahasa.
• Pengetahuan bahasa bersangkut paut dengan masalah kognitif
• Pemakaian bahasa berkaitan dengan praktek pengetahuan bahasa (apa yang diketahui dikemukakan dalam pemakaian bahasa).
• Peruabahan bahasa menyangkut akuisisi bahasa dan tahap perkembanganya terutama ketika manusia masih kecil/kanak.

4. Emon Back
Psikolinguistik adalah ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya pembicara membentuk dan membangun suatu atau mengerti kalimat tersebut.  Hal ini mengacu pada domain kognitif, yakni bagaimana bahasa berproses dalam otak kita. Bahasa yang diwujudkan dalam kalimat dihasilkan oleh pebicara yang kemudian diusahakan untuk dimengerti oleh pendengar.

5. Langacker
Psikolinguistik merupakan telaah akuisisi bahasa dan tingka laku linguistik terutama mekanisme psikologis yang bertujuan pada kedua bahasa tersebut. Akuisisi bahasa bersangkut paut dengan proses pemerolehan bahasa. Tinga laku linguistik mengacu pada proses kompetensi dan performance bahasa. Proses ini bahasa ini tetap dalam otak. Oleh karena itu mekanisme psikologi sangat berperan.

6. Diebolt yang dikutip Slama.
Psikolinguistik dalam pengertian luas membicarakan hubungan antara psean dengan sifat-sifat kemandirian manusia yang menyeleksi dan nmenafsirkan pesan.

7. Paul Fraisse
Psikolinguistik adalah hubungan antara kebutuhan kita untuk berekpresi dan berkomukasi dan benda-benda yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari sejak kecil dan tahap-tahap selanjtnya. Berdasarkan batasan-batasan yang telah disebutkan diatas terdapat pandangan sebagai berikut :
• psikolinguistik membahas hubungan bahasa dengan otak
• psikolinguistik berhubungan langsung dengan proses mengkode dan menafsirkan kode
• psikolinguistik sebgai pendekatan
• psikolinguistik menelaah pengetahuan bahasa, pemakaian bahasa, dan perubahan bahasa
• psikolinguistik menitikberatkan pada pembahasan mengenai akuisisi bahasa dan tingkalaku linguistik.
Psikolinguistik termasuk salah satu cabang linguistik yang kerap perkembangannya pesat karena membuka diri dalam temuan disiplin ilmu lain sebagai alat bantu untuk menginterpretasikan masalah pemerolehan bahasa (language acguisition) serta komprehensi dan produksi bahasa ( speech comprehension and production). Psikolinguistik merupakan salah satu cabang linguistik yang kompleks. Ahli psikolinguistik dituntut untuk dapat melakukan analisis pada semua tataran linguistik (fonologi-morfologi-sintaksis-wacana-semantik-pragmatik) dengan baik karena psikolinguistik berusaha memahami bagaimana bahasa berbahasa di otak manusia. Selain itu, psikolinguistik juga mempertanyakan kembali apakah terdapat bukti biologis bahwa bahasa bersifat anugerah kodrati (innate properties) sebagaimana dicetuskan oleh Chomsky. Kajian psikoliguistik akan memberi kajian yang bermanfaat untuk perencanaan bahasa jika penelitian tentang pemerolehan bahasa pertama (chil language acquisition) ditingkatkan.
Hasil penelitian mengenai anak yang normal, baik pemerolehan bahasa Indonesia maupun pemerolehan bahasa daerah, diperlukan oleh perencanaan bahasa dan juga oleh bidang pengajaran bahasa. Teori yang terbaru, yaitu cenectionism sangat berkaitan erat dengan kumputasi bahasa (language computing), yaitu pembuat program komputer yang mencoba meniru kerja otak dalam memproses bahasa. Dalam hal ini, komputer diprogram agar dapat melakukan pemprosesan bahasa secara pararel , masal, dan serempak (massive parallel prosesing ) dan computer diharapkan dapat belajar menemukan sendiri pola dan struktur bahasa tanpa diberi asupan tentang tata bahasa. Hal ini untuk meniru cara kerja otak anak ketika belajar berbahasa sehingga satu-satunya jalan untuk menemukan pola dan struktur bahasa adalah dengan mencoba mengoneksikan berbagai data kebahasaan yang dientri ke dalam komputer.
Pendekatan struktural lebih berorientasi pada pengamatan produk bahasa dengan mencoba memahami perspektif proses komprehensi dan atau produk bahasa yang menjadi otak manusia. Misalnya dengan menggunakan data linguistik berupa kilir lidah yang dikenal spoonerisms. Psikolinguistik merupakan salah satu cabang lilnguistik yang sangat menarik karena “memaksa” kita membuat berbagai hipotesis tentang cara kerja otak memproses bahasa.

II.  Objek Bahasa
Psikolinguistik adalah gabungan dua disiplin ilmu Bahasa gejala jiwa Dengan demikian dapat dikatakan bahwa objek psikolinguistik adalah bahasa juga, tetapi bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dalam gejala jiwa. Dengan kata lain, bahasa yang dilihat dari aspek –aspek psikologis.
• Contoh : orang yang sedang marah akan lain perwuju dan bahasa yang digunakan dengan orang yang sedang bergembira.

Titik berat psikolinguistik adalah bahasa, dan bukan gejala jiwa. itu sebabnya dalam batasan-batasan psikolinguistik yang telah dikemukakan selalu ditonjolkan proses bahasa yang terjadi pada otak (mind), baik proses yang terjadi di otak pembicara maupun proses yang terjadi pada otak pendengar.

III. Lingkup Psikolinguistik
Lingkup psikologis mencoba memerikan bahasa dilihat dari aspek-aspek psikologi dan sejauh dapat dipikirkan oleh otak manusia. Topik-topik penting yang menjiwai lingkupan psikolinguistik adalah :
• Proses bahasa dalam komuniasi dan pikiran
• akuisisi bahasa
• Pola tingkah laku berbahasa
• asosiasi verbal dan persoalan makna
• Proses bahasa pada orang yang abnormal
• Persepsi ujaran dan kognisi
Kita sulit memikirkan bagaimana satuan bahasa bersemayam dalam otak kita.Yang jelas, kita menyaksikan bahwa kita berbicara kadang-kadang tanpa dipikirkan lagi, dan kita bergembira karena lawan bicara mengerti apa yang kita katakan.

1.4 Kedudukan Psikolinguistik dan Ilmu Lain

Setiap ilmu berdiri sendiri. Namun dalam operasionalnya tidak berdiri sendiri. Biasanya manusia menyelesaikan sesuatu dengan menggunakan berbagai cabang ilmu. dengan kata lain terdapat hubungan suatu ilmu dengan ilmu yang lain. Bagaimana kedudukan psikolinguistik dengan ilmu lain dapat digambarkan oleh George sebagai berikut:
Contoh : Ali yang gemuk itu sakit.
Linguistik : struktur kalimat
Psikologi : bagaimana perasaan Ali yang sakit?
Logika : mungkinkah orang yang gemuk itu sakit?
filsafat : dari mana datangnya sakit, dan kalau sudah sembuh ke mana perginya rasa sakit itu? mengapa orang sakit meskipun diobati meninggal juga?
psikologi
Linguistik
Filsafat
logika

1.5 Psikologi Dewasa Ini
Dewasa ini psikolinguistik lebih diarahkan untuk pendidikan bahasa. Psikolinguistik dimanfaatkan untuk pengajaran bahasa. Pengajaran bahasa di sini diarahkan agar si terdidik mahir berbahasa. Jadi, tujuannya praktis, yakni agar si terdidik dapat menggunakan bahasa yang diajarkan kepadanya. Peranan psikolinguistik dalam pengajaran bahasa bukan saja berhubungan dengan akuisisi bahasa, tetapi juga untuk kepentigan belajar bahasa pertama, bahasa kedua, dan bahasa asing. Dewasa ini si terdidik bukan saja mempelajari satu bahasa tetapi harus diajarkan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Untuk mempelajari bahasa diperlukan gabungan teori linguistik dan psikologi yang menjelama dalam sub disiplin linguistik yang disebut Psikolinguistik Dengan adanya psikolinguistik diharapkan proses akuisis bahasa lebih terungkap dan pengajaran bahasa , baik bahasa ibu, bahasa kedua, maupun bahasa asing lebih memenuhi harapan.

2. Aspek-Aspek Psikolinguistik

2.1 Pendekatan
Bahasa dapat dilihat dari pendekatan :

a) Bahasa sebagai suatu sistem
Mengisyaratkan adanya kaidah yang mengatur suatu bahasa. Kaidah bahasa tertentu tercermin dalam tatarannya. Kaidah tersebut tidak berdiri sendiri tetapi merupakan seperangkat unsur yang menjalin dan membentuk suatu sistem. Bahasa itu bersifat dinamis dengan pengertian bahwa bahasa itu berkembang sesuai dengan perkembangan penutur bahasa. Itu sebabnya bahasa dapat pula kita lihat sebagai tingka laku personal. Sebagai suatu sistem bahasa menampakan wujudnya dalam bunyi dan simbol-simbol. Bunyi dan simbol mengikuti kaidah yang ditaati oleh penutur bahasa dan secara konvensional digunakan dalam kehidupan sehari-hari. sistem bahasa tertentu yang merupakankompetensi penutur bahasa akan menampakan wujudnya dalam performansi seseorang.

b) Bahasa sebagai tingkah laku personal
Sebagai tingkah laku personal, bahasa menampakan wujudnya dalam penampilan seseorang.  Contoh : apabila seseorang berkata, “Berkatalah Saudara dan akan saya katakan siapakah saudara”. Dengan kata lain, dengan bahasa kita dapat ketahui tingkah laku penutur bahasa. Orang bisa saja mengambil kesimpulan dengan melihat reaksi seseoran terhadap rangsangan yang ia terima. Hubungan antara siatasi, konteks verbal pembicaraan dapat dipelajari dan dapat kiota mengamil kesimpulan makna yang terkandung dalam sutau tuturan.

b) Bahasa sebagai tingkah laku antarpersonal
bahasa dapat dilihat melalui situasi komunikasi pada situasi tertentu. Apabila seseorang bertanya dan lawan bicara menjawab dengan memuaskan berarti komunikasi berhasil baik. Sebaliknya kalau seseorang memerintah kemudian lawan bicara diam saja, itu tandanya komunikasi tidak berhasil.
Sebab-sebabnya dapat dilihat dari :
• pembicara
• lawan bicara
• situasi
Banyak variable yang ikut menentukan lancarnya komunikasi.

Dalam komunikasi terjadi banyak hambatan yang berhubungan dengan persepsi penutur antara lain :
• informasi yang dikirim kurang jelas
• ingatan dan kapasitas penutur dan pendengar berbeda
• kedua pembicara menggunakan konvensi gramatikal yang berbeda
• antara keduanya terjadi interferensi gramatikal yang bersifat regional, dan
• pengaruh alat bicara dan alat dengar yang tidak sempurna.
kalau kita ingin menggunakan bahasa tertentu, salah satu cara yakni mendengarkan tuturan penutur bahasa yang bersangkutan.

Dilihat dari segi psikolinguistik, tuturan dapat dilihat dari tiga tingkat, yakni
Aspek struktural : mengacu kepada sistem bahasa yang bersangkutan,
Aspek intensional : mengacu kepada kebertahanan leksikon dan makna pada otak pembicara ,
Aspek motivasional : mengacu kepada daya dorong yang menyebabkan seseorang menyatakan sesuatu dengan menggunakan bahasa.

2.2 Pengertian
Menurut Langacker: linguistik adalah bahasa manusia
Lyons : linguistik adalah studi bahasa secara ilmiah
berdasarkan kedua batasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa objek linguistik adalah bahasa dan bahasa yang dimaksud adalah bahasa manusia. Untuk berkomunikasi bahasa memegang peranan yang sangat penting. Bahasa yang sangat berperan adalah bahasa lisan. Semua manusia menggunakan bahasa lisan untuk menghubungkan dirinya dengan dunia di luar dirinya. penggunaan bahasa dapat dijadikan alat untuk menerka proses yang bergejolak dalam jiwa seseorang.

2.3 Bahasa sebagai Objek Linguistik

1) Bahasa merupakan seperangkat bunyi : bunyi bahasa. Kita mengerti pesan yang tersirat dalam deretan bunyi bahasa itu karena termasuk penutur bahasa yang digunakan oleh pembicara
2) Bahasa bersifat arbitrer
Hubungan antara bunyi atau urutan bunyi dan objeknya bersifat arbitrer dan tidak dapat diterka. tidak ada hubungan antara kegiatan meletakan dan bunyi meletakan.
3) Bahasa bersitaf sistematis
Setiap bahasa mempunyai sistem sendiri-sendiri yang berbeda dengan sistem bahasa manapuN
4) Bahasa merupakan seperangkat simbol
Bahasa yang dihasilkan oleh alat bicara manusia yang berwujud kata-kata, sebenarnya, sebenarnya simbol yang mewakili suatu benda, proses, peristiwa atau kegiatan. Misalnya : kegiatan meletakkan. simbolnya meletakkan. Jadi kalau kita melihat seseorang sedang membungkukan dan tangannya yang di sebelah menaruh sesuatu maka simbol kegiatan ini meletakkan.
5) Bahasa bersifat sempurna
Sempurna dalam hal telah memenuhi amanat pembicara.
Contoh : Letakanlah buku di atas meja

2.4 Proses Bahasa
Kalau kita mendengar orang yang sedang berbicara, sesungguhnya kita hanya mendengar bunyi-bunyi bahasa yang tentu harus dibedakan dari bunyi yang lain, misalnya bunyi orang bersiul atau mendengkur. Bunyi bahasa itu, ada yang kita mengerti dan ada pula yang asing bagi kita. Bunyi bahasa yang kita mengerti menandakan bahwa pembicara memiliki bahasa yang sama dengan bahasa kita atau antara pembicara dan kita sebagai pendengar saling mengerti. Sebaliknya kalau kita mendengar urutan bunyi bahasa tetapi tidak mengerti apa yang dikatakan bahwa bahasa yang digunakan bukan bahasa kita atau bahasa asing bagi kita. Dengan adanya pengetahuan tentang bahasa kita dapat menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Artinya ada persepsi yang sama tentang bahasa yang digunakan. secara operasional, komunikasi yang sedang berlangsung itu bersitaf timbal balik.
Namun dalam keadaan tertentu komunikasi itu hanya bersifat searah Misalnya : kita menyuruh seseorang dan yang bersangkutan tidak bereaksi apa-apa,kecuali melaksanakan suruhan kita.  Bahasa yang digunakan dalam proses komunikasi sebenarnya melalui suatu proses yang disebut proses bahasa. Proses bahasa dapat dibagi tiga bagian, yakni :
1) proses ketika masih berada dalam jati diri seseorang
2) berada di lingkungan , dan
3) berada dalam jati diri pendengar.

BAHASA DAN PIKIRAN

Bahasa digunakan untuk mengungkapkan pikiran.
Pertanyaan yang perlu dikerjakan :
1. bagaimana hubungan antara bahasa dan pikiran.
2. dapatkah kita berpikir tanpa bahasa
3. bagaimana proses berpikir itu
4. apakah pikiran kita dipolakan oleh struktur bahasa yang kita gunakan
5. bagaimana caranya agar hasil pemikiran dimengerti oleh pendengar

Langacker : berpikir adalah aktivitas mental manusia. Aktivitas mental akan berlangsung apabila ada stimulus, artinya ada sesuatu yang menyebabkan manusia untuk berpikir. Memang ada saja yang dipikirkan manusia.
Bahasa digunakan untuk mengoperasikan hasil pemikiran manusia. dalamhubungan inibahasa dapat dilihat dari dua hal yakni :
1) sebagai aktivitas jiwa;
2) bahasa sebagai aktvitas otak
• Sebagai aktivitas jiwa : bahasa dapat dianggap baik sebagai gerakan mental atau sebagai stimulus reaksi..
• Ilmu yang mempelajari bahasa sebagai gerakan mental di sebut psikomekanik
• bahasa dianggap sebagai aktivitas otak
Sebagai aktivitas otak terdapat dua pendekatan yang digunakan yakni :
• pendekatan melalui neurology : bunyi bahasa dan konsep terdapat dalam otak
• pendekatan teknologi : 
terdapat 3 hal yang perlu diperhatikan
1. model kontruksi
2. model teoritis
3. model kerja
1 pengertian
Psikolog dan linguis pada saat ini lebih suka menggunakan istilah akuisisi bahasa (language acquisition) .Istilah akuisisi lebih baik digunakan daripada istilah belajar bahasa karena belajar bahasa lebih banyak digunakan oleh ahli-ahli psikologi.

• Studi tentang akuisisi bahasa bukan hanya dilakukan bagi anak-anak norma tetapi, tetapi juga dilakukan terhadap anak-anak yang abnormal.
2.Teori Akuisisi Bahasa

1) Teori akuisisi bahasa yang behavioristik atau kaum empiris/ antimentalistik/ makanis : tidak ada struktur linguistik yang dibawa sejak lahir. Anak lahir dianggap kosong dari bahasa. Lingkunganlah yang akan membentuk yang perlahan-lahan dikondisi oleh lingkungan dan pengukuhan terhadap tingkah lakunya. pengetahuan dan ketrampilan berbahasa diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar

2) Teori akuisisi bahasa yang mentalistik /nativis / rasionalis : Seorang anak sejak lahir telah membawa sejumlah kapasitas atau potensi bahasa yang akan berkembang sesuai dengan proses kematangan intelektualnyaatau disebut LAD (Language Acquisition Device).kelangkapan berbahasa ini berisis sejumlah hipotesis bawaan.

3) Teori akuisisi bahasa yang kognitiftik : aspek pengetahuan dan pegalaman
Teori kognitif menekankan hasil kerja menta, hasil pekerjaan yang nonbehaviristik

Proses Akuisisi Bahasa
Telah ada keyakinan antara sesame ahli psikolinguistik bahwa akuisisi bahasa bersifat dinamis : berlangsung dari tahap yang satu ke tahap yang lain. dalam tahap perkembangan akuisisi ini terjaadi :
• perubahan yang terjadi dengan struktur kata
• perkembanagan ditentukan oleh interaksi personal, berfungsinya saraf secara baik dan proses kogniti
• bahwa dalam akuisisi bahasa terjadi proses pemilihan kata-kata dan struktur yang tidak dimiliki oleh anak
• bahwa teori yang digunakan bersifat umum : akuisisi bahasa dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. DKL: akuisisi bahasa tergantung pada lingkungan bahasa anak.
Reaksi pertama yang dilakukan oleh anak yang baru lahir : menangis
Tidak seorangpun bayi yang lahir segera mengucapkan kalimat:
Misalnya : wah, saya baru lahir tangisan pertama tidur
• menangis panas, dingin, lapar, basah,dll.
• menghafal bau badan orang yang selalu dekat dengannya
Perkembangan Akuisisi Bahasa
Akuisisi bahasa berkembang melalui fase-fase tertentu. Kriteria yang yang digunakan adalah : gejala yang dilihat pada perkembangan anak itu sendiri.

Perkembangan akuisisi bahasa

Psikolinguistik adalah penggabungan antara dua kata 'psikologi' dan 'linguistik'. Psikolinguistik mempelajari faktor-faktor psikologis dan neurobiologis yang memungkinkan manusia mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa. Kajiannya semula lebih banyak bersifat filosofis, karena masih sedikitnya pemahaman tentang bagaimana otak manusia berfungsi. Oleh karena itu psikolinguistik sangat erat kaitannya dengan psikologi kognitif. Penelitian modern menggunakan biologi, neurologi, ilmu kognitif, dan teori informasi untuk mempelajari cara otak memroses bahasa.
Psikolinguistik meliputi proses kognitif yang bisa menghasilkan kalimat yang mempunyai arti dan benar secara tata bahasa dari perbendaharaan kata dan struktur tata bahasa, termasuk juga proses yang membuat bisa dipahaminya ungkapan, kata, tulisan, dan sebagainya. Psikolinguistik perkembangan mempelajari kemampuan bayi dan anak-anak dalam mempelajari bahasa, biasanya dengan metoda eksperimental dan kuantitatif (berbeda dengan pengamatan naturalistik seperti yang dilakukan Jean Piaget dalam penelitiannya tentang perkembangan anak).

Area studi
Psikolinguistik bersifat interdisipliner dan dipelajari oleh ahli dalam berbagai bidang, seperti psikologi, ilmu kognitif, dan linguistik. Psikolinguistik adalah perilaku berbahasa yang disebabkan oleh interaksinya dengan cara berpikir manusia. Ilmu ini meneliti tentang perolehan, produksi dan pemahaman terhadap bahasa[1]. Ada beberapa subdivisi dalam psikolinguistik yang didasarkan pada komponen-komponen yang membentuk bahasa pada manusia.
  • Fonetik dan fonologi mempelajari bunyi ucapan. Di dalam psikolinguistik, penelitian terfokus pada bagaimana otak memproses dan memahami bunyi-bunyi ini.
  • Morfologi mempelajari struktur kalimat, terutama hubungan antara kata yang berhubungan dan pembentukan kata-kata berdasarkan pada aturan-aturan.
  • Sintaks mempelajari pola-pola yang menentukan bagaimana kata-kata dikombinasikan bersama membentuk kalimat
  • Semantik berhubungan dengan makna dari kata atau kalimat. Bila sintaks berhubungan dengan struktur formal dari kalimat, semantik berhubungan dengan makna aktual dari kalimat.
  • Pragmatik berhubungan dengan peran konteks dalam penginterpretasian makna.
  • Studi tentang cara mengenali dan membaca kata meneliti proses yang tercakup dalam perolehan informasi ortografik, morfologis, fonologis, dan semantik dari pola-pola dalam tulisan.

Perolehan bahasa
Terdapat beberapa teori mengenai perolehan bahasa pada bayi dan balita yang bersumber pada perkembangan psikologi yang bersifat natur dan nurtur. Natur adalah aliran yang meyakini bahwa kemampuan manusia adalah bawaan sejak lahir. Oleh karena itu manusia telah dilengkapi secara biologis oleh alam (natur) untuk memproduksi bahasa melalui alat-alat bicara (lidah, bibir, gigi, rongga tenggorokan, dibantu oleh alat pendengaran) maupun untuk memahami arti dari bahasa tersebut (melalui skema pada kognisi). Noam Chomsky adalah tokoh yang mempercayai peran natur secara radikal dalam perolehan bahasa. Pihak yang mempercayai kekuatan nurtur dalam perolehan bahasa berargumen bahwa bayi dan balita memperoleh bahasa karena terbiasa pada bahasa ibu. Hal ini terbukti pada pembentukan kemampuan fonem yang tergantung pada bahasa ibu. Misalkan pada bayi Jepang pada usia dibawah 6 bulan masih dapat membedakan fonem ra dan la dengan jelas, namun pada usia satu tahun mereka kesulitan untuk membedakan fonem ra dan la.Michael Tomasello mengkritik Chomsky bahwa bahasa tidak akan muncul begitu saja. Ia meyakini bahwa bahasa diperoleh karena bayi belajar menggunakan bahasa sebagai simbol terlebih dahulu dengan kemampuan bayi untuk melakukan atensi bersama (Join attention) pada saat sebelum bayi mampu memproduksi bahasa [2]. Pada dasarnya natur dan nurtur memiliki kontribusi terhadap perolehan bahasa pada bayi.

Mekanisme perolehan bahasa
  • Imitasi
Imitasi dalam perolehan bahasa terjadi ketika anak menirukan pola bahasa maupun kosa kata dari orang-orang yang signifikan bagi mereka, biasanya orang tua atau pengasuh. Imitasi yang dilakukan oleh anak, tidak hanya menirukan secara persis (mimikri) hal yang dilakukan orang lain, namun anak memilih hal-hal yang dianggap oleh anak menarik untuk ditirukan.
  • Pengkondisian
Mekanisme perolehan bahasa melalui pengkondisian diajukan oleh B.F Skinner. Mekanisme pengkondisian atau pembiasaan terhadap ucapan yang didengar anak dan diasosiasikan dengan objek atau peristiwa yang terjadi. Oleh karena itu kosa kata awal yang dimiliki oleh anak adalah kata benda.
  • Kognisi sosial
Anak memperoleh pemahaman terhadap kata (semantik) karena secara kognisi ia memahami tujuan seseorang memproduksi suatu fonem melalui mekanisme atensi bersama. Adapun produksi bahasa diperolehnya melalui mekanisme imitasi.


Psikolinguistik

Bagaimana manusia memahami bahasa, memproduksi bahasa dan bagaimana mereka memperoleh kedua kemampuan tersebut. Pemahaman dapat didefinisikan dalam dua sudut pandang: dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit pemahaman berarti proses mental untuk menangkap bunyi-bunyi yang diujarkan seorang penutur untuk membangun sebuah interpretasi mengenai apa yang dia anggap dimaksudkan oleh si penutur, sedangkan dalam arti luas, hasil interpretasi tersebut digunakan untuk melakukan tindakan-tindakan yang relevan.
Produksi sering diidentikkan dengan berbicara, meskipun produksi juga mencakup menulis. Dalam berbicara, juga menulis, seorang penutur melakukan dua jenis kegiatan, yaitu merencanakan dan melaksanakan yang meliputi tatar wacana, tatar kalimat, tatar konstituen, program artikulasi dan artikulasi.

b. Perbedaan antara kajian Psikolinguistik dan Sosio-linguistik
Menurut Foos (dalam Herman J. Waluyo, 2006:1) psikolinguistik adalah ilmu yang menelaah tentang apa yang diperoleh seseorang, jika mereka melaksanakan proses perolehan bahasa (language acquisition); bagaimana mereka memperoleh bahasa (producing language and speech); bagaimana mereka menggunakan bahasa dalam proses mengingat dari memahami bahasa itu (comprehension and memory). Psikolinguistik berhubungan erat dengan psikologi kognitif, yakni psikologi yang membahasa tentang pemaman dan berfikir.
Dari pengertian yang dinyatakan Foos tersebut dapat dilihat, bahwa psikolinguistik berhubungan dengan: (1) proses perolehan bahasa, (2) proses produksi bahasa, dan (3) proses pemahaman dan ingatan. Dalam proses produksi bahasa dibahas juga proses kerja otak manusia. Dalam hal ini kita berhadapan dengan neorolinguistik. Dalam proses perolehan bahasa, kita dihadapkan juga dengan perkembangan bahasa anak. Dalam proses pemahaman bahasa, kita dihadapkan dengan proses mengingat bahasa, dan keduanya merupakan proses bagaimana seseorang mengerti bahasa.
Psikolinguistik mempelajari faktor-faktor psikologis dan neurobiologis yang memungkinkan manusia mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa. Kajiannya semula lebih banyak bersifat filosofis, karena masih sedikitnya pemahaman tentang bagaimana otak manusia berfungsi. Oleh karena itu psikolinguistik sangat erat kaitannya dengan psikologi kognitif. Penelitian modern menggunakan biologi, neurologi, ilmu kognitif, dan teori informasi untuk mempelajari cara otak memroses bahasa.
Sosiolinguistik yang mengacu pada pemahaman terhadap konteks sosial tempat terjadinya peristiwa komunikasi. Kemampuan kewacanaan mengacu pada interpretasi terhadap unsur-unsur pesan secara individual, hubungan antara pesan-pesan itu dalam suatu wacana, (koherensi) serta keseluruhan makna wacana.

c. Psikolinguistik cenderung bersifat mentalistik dan bukan behavouristik
Karena berhubungan faktor-faktor penggunaan bahasa dengan factor-faktor diluar bahasa di dalam masyarakat bahasa. Faktor-faktor itu misalnya: sopan santun, kepantasan, kejelasan (tidak ambigu), kelayakan (cukup tidaknya ekspresi bahasa), kelucuan, dan sebagainya.
Sejumlah konsep pendapat-pendapat para teorisi mengenai bagaimana seseorang memahami dan merespons terhadap apa-apa yang ada di alam semesta ini. Kita telah berbicara mengenai pandangan-pandangan kaum mentalis dan kaum bahavioris, terutama dalam kaitan dengan keterhubungan antara bahasa, ujaran dan pikiran. Menurut kaum mentalis, seorang manusia dipandang memiliki sebuah akal (mind) yang berbeda dari badan (body) orang tersebut. Artinya bahwa badan dan akal dianggap sebagai dua hal yang berinteraksi satu sama lain, yang salah satu di antaranya mungkin menyebabkan atau mungkin mengontrol peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bagian lainnya. Dalam kaitan dengan perilaku secara keseluruhan, pandangan ini berpendapat bahwa seseorang berperilaku seperti yang mereka lakukan itu bisa merupakan hasil perilaku badan secara tersendiri, seperti bernapas atau bisa pula merupakan hasil interaksi antara badan dan pikiran. Mentalisme dapat dibagi menjadi dua, yakni empirisme dan rasionalisme.
Fenomena mentalistik yang dimaksud ialah proses berfikir yang dilakukan secara tidak sadar seperti pemerolehan bahasa pada anak-anak. Bahasa pada anak-anak didapat dari proses memperhatikan tata bahasa serta pembaharuan asli bahasa orangtuanya yang kermudian dia cocokkan rangkaian hipotesis tata bahasa tadi dengan ucapan-ucapan orangtuanya lalu ia apdukan dengan tata bahsa baru buatannya sendiri sebagai tata bahasa tunggal. Pemerolehan bahasa oleh anak-anak dapat diketahui dengan mengadakan penelitian mengenai bahasa anak itu sendiri. Penelitina itu penting karena bahasa anak memang manarik untuk diteliti. Selain itu juga hasil penelitiannya pun dapat membantu mencari solusi pada aneka ragam masalah serta dari hasil penelitian itu pula jelaslah bahwa fenomena pemerolehan bahasa relevan bagi perkembangan teori linguistic. Walaupun demikian ditemukan pula adanya kesulitan-kesulitan dalam penelitian tersebut. Dari penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa meski agak jelas beda dalam permukaan struktur bahasa anak dengan orang dewasa, namun tidak begitu jelas hubungan komponen tata bahasa anak dengan tata bahasa orang dewasa.
Selain pemerolehan bahasa anak, bahasa sebagai satuan kognitif juga menerangkan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Hubungan tersebut jelas sebab apabila kita ingin memandang miliki bahasa sebagai suatu ciri biologis manusia, maka haruslah kita menjelaskan bagaimana cara suatu system biologis seperti otak manusia dapat mewujukan kreativitas.
Anggapan-anggapan kaum behavioris mengenai keterkaitan antara bahasa dengan pikiran, yang kemudian diikuti oleh argumen-argumen yang menentang anggapan tersebut. Namun, hanya dua anggapan yang paling penting yang disajikan. Dua anggapan lainnya hanya disarikan dan disajikan secara singkat. Anggapan-anggapan bahwa:(1) bahasa merupakan landasan bagi pikiran, (2) bahasa merupakan landasan utama bagi pikiran, (3) bahasa mempengaruhi pandangan, persepsi, dan pemahaman manusia mengenai dunia di sekelilingnya serta mengenai budaya tempat ia hidup memiliki argumen argumen yang kurang kuat. Bukti-bukti bahwa anak-anak yang belum bisa berbicara telah mampu memahami ujaran orang yang berbicara kepadanya, kenyataan bahwa orang tuli dapat memberi respons yang memadai terhadap orang yang berinteraksi dengannya, dan kenyataan bahwa multibahasawan hanya memiliki satu keyakinan dan pandangan hidup, serta kenyataan bahwa orang-orang yang memiliki bahasa yang sama memiliki persepsi yang berbeda mengukuhkan kelemahan argumen tersebut.

2. a. Kesemestaan dalam bahasa
Kaum mentalis berpendapat bahwa setiap anak yang lahir telah memiliki sejumlah kapasitas atau potensi bahasa. Potensi bahasa ini akan berkembang apabila saatnya tiba. (Brown, 1980) beranggapan bahwa setiap anak yang lahir telah memiliki apa yang mereka sebut LAD (Language Acquisition Device). Kelengkapan bahasa ini berisi sejumlah hipotesis bawaan. McNeill (Brown, 1980) menyatakan bahwa LAD terdiri dari: (a) kecakapan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain, (b) kecakapan mengorganisasi satuan linguistik ke dalam sejumlah kelas yang akan berkembang kemudian, (c) pengetahuan tetang sistem bahasa yang mungkin dan yang tidak mungkinn, dan (d) kecakapan menggunakan sistem bahasa yang didasarkan pada penilaian perkembangan sistem linguistik, dengan demikian dapat melahirkan sistem yang dirasakan mungkin di luar data linguistik yang ditemukan.
Senada dengan itu, Ellis (1986) menyimpulkan pandangan mentalis tentang pemerolehan B1 sebagai: (1) bahasa merupkan kemampuan khusus manusia; (2) keberadaannya tidak terikat oleh otak atau akal budi manusia, karena meskipun bahasa merupakan bagian alat-alat kognitif, bahasa terpisah dari mekanisme kognitif umum yang berkaitan dengan perkembangan intelektual; (3) faktor utama pemerolehan B1 adalah piranti pemerolehan bahasa (LAD) yang secara genetis memengaruhi dan menyumbangkan seperangkat prinsip tata bahasa pada anak; (4) LAD berhenti perkembangannya karena usia dan; (5) proses pemerolehan bahasa terdiri atas pengujian hipotesis dengan cara menghubungkan tata bahasa B1 pebelajar dengan univeral grammar. Pandangan kaum mentalis tentang pemerolehan B2, karena seorang pebelajar menguasai pengetahuan bahasa ibunya dengan jalan menguji hipotesis yang dibuatnya. Tugasnya adalah menghubungkan pengetahuan bawaan tentang gramatika dasar dengan struktur lahir kalimat-kalimat bahasa yang dipelajarinya.

b. Kesemestaan dalam bahasa relevan dengan psikolinguistik
Bahasa sebagai satuan kognitif adalah kreativitas linguistic yang merupakan ciri kesemestaan bahasa. Dalam krestivitas linguistic ditemukan adanya empat aspek yang dibicarakan. Keempat aspek tersebut yaitu: pertama, ketakterbatasan ekspresi linguistik. Ketakterbatasan linguistik ini merupakan bentuk dan isi ekspresi sebagai refleksi-refleksi langsung dari situasi-situasi non-linguistik. Kedua, kreativitas bahasa relative bebas dari pengawasan stimulus. Dalam hal ini bahasa dapat bertindak sebagai alat pikiran dan swa-ekspresi. Ketiga, keserasian ujaran dengan keadaan yang merupakan ekspresi-ekspresi linguistik dengan situasi. Keempat, adanya aspek kesanggupan menciptakan kosa kata baru yang menyatakan adanya suatu konsep atau ide baru. Dalam hal ini sistem bahasa sebagai satuan kognitif Nampak ketika setiap orang yang normal dalam jangka waktu yang tidak tentu menganggap ucapan-ucapan baru sebagai ucapan-ucapan yang wajar. Karena apabila ktia perhatikan dalam peristiwa tersebut secara tidak sadar pemakai bahasa ketika berbicara mengikuti kaidah-kaidah linguistik dan mengerti bahasa alamiah. Bahasa sebagai satuan kognitif juga membahas mengenai kaidah-kaidah linguistik, kapasitas tak terbatas dengan cara terbatas, bahasa dan kebudayaan, sistem komunikasi linguistik, serta tata bahasa deskriptif vs preskriptif yang kesemuanya ada dari hasil peoses berfikir manusia atas apa yang dia lihat dan alami.
3. Sejumlah konsep pendapat-pendapat para teorisi mengenai bagaimana seseorang memahami dan merespons terhadap apa-apa yang ada di alam semesta ini. Pandangan-pandangan kaum mentalis dan kaum bahavioris, terutama dalam kaitan dengan keterhubungan antara bahasa, ujaran dan pikiran. Menurut kaum mentalis, seorang manusia dipandang memiliki sebuah akal (mind) yang berbeda dari badan (body) orang tersebut. Artinya bahwa badan dan akal dianggap sebagai dua hal yang berinteraksi satu sama lain, yang salah satu di antaranya mungkin menyebabkan atau mungkin mengontrol peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bagian lainnya. Dalam kaitan dengan perilaku secara keseluruhan, pandangan ini berpendapat bahwa seseorang berperilaku seperti yang mereka lakukan itu bisa merupakan hasil perilaku badan secara tersendiri, seperti bernapas atau bisa pula merupakan hasil interaksi antara badan dan pikiran. Mentalisme dapat dibagi menjadi dua, yakni empirisme dan rasionalism.
Kedua pendapat ini pun memiliki pandangan-pandangan yang berbeda dalam memahami persoalan gagasan-gagasan batin atau pengetahuan. Semua kaum mentalis bersepakat mengenai adanya akal dan bahwa manusia memiliki pengetahuan dan gagasan di dalam akalnya. Meskipun demikian, mereka tidak bersepakat dalam hal bagaimana gagasan-gagasan tersebut bisa ada di dalam akal. Apakah gagasan-gagasan tersebut seluruhnya diperoleh dari pengalaman (pendapat kaum empiris) atau gagasan-gagasan tersebut sudah ada di dalam akal sejak lahir (gagasan kaum rasional). Bahkan di dalam kedua aliran ini pun, terdapat perbedaan pendapat. Kemudian, diketengahkan mengenai empirisme. Dalam kaitan ini kenyataan bahwa kata empiris dan empirisme telah berkembang menjadi dua istilah yang memiliki dua makna yang berbeda. Setelah itu, isu lain yang mengelompokkan kaum empiris, yakni isu yang berkenaan dengan pertanyaan apakah gagasan-gagasan di dalam akal manusia yang membentuk pengetahuan bersifat universal atau umum di samping juga bersifat fisik.
Pada bagian selanjutnya, pendapat-pendapat kaum behavioris, antara lain pendapat-pendapat John B. Watson, pendiri behaviorisme. Watson menganggap bahwa kesadaran merupakan tahayul-tahayul radius yang tidak relevan terhadap studi psikologi. Watson mengatakan bahwa keyakinan pada adanya kesadaran berkaitan dengan keyakinan masa-masa nenek moyang mengenai tahayul. Magis-magis senantiasa hidup. Konsep-konsep warisan masa praberadab ini telah membuat kebangkitan dan pertumbuhan psikologis ilmiah menjadi sangat sulit. Kriteria Watson dalam menentukan apakah sesuatu itu ada atau tidak ada adalah berdasarkan apakah hal tersebut dapat diamati atau tidak dapat diamati.
 

PART II:
1. Peran ibu dan anak dalam proses komunikasi dalam data tersebut;
yang dapat dimaknai adalah penerapan teori bahasa sebagai landasan pendekatan komunikasi. Dalam hal ini bahasa dilihat lebih dari sekedar sistem kaidah gramatikal yaitu sebagai sebuah sistem komunikasi. Teori ini memandang bahwa: bahasa adalah sistem untuk mengungkapkan makna; fungsi utama bahasa adalah untuk interaksi dan komunikasi; struktur bahasa mencerminkan kegunaan fungsional dan komunikatifnya; dan unit utama bahasa tidak hanya berupa ciri-ciri gramatikal dan strukturnya, tetapi juga kategori makna fungsional dan komunikatif. Strategi komunikasi mengacu pada kemampuan untuk mengelola komunikasi, dalam hal memulai komunikasi, mempertahankan kelangsungan komunikasi, mengakhiri komunikasi, memperbaiki hubungan, dan sebagainya sehingga komunikasi berjalan lancar. Demikian pentingnya kemampuan berkomunikasi itu, maka kemampuan berkomunikasi inilah seharusnya yang menjadi tujuan pengajaran bahasa.
2. Data yang menyatakan bahwa anak cenderung membuat istilah sendiri yaitu:
a. Dimas mengatakan binatang anjing dengan kata-kata guk-guk akal. Dimas mendengar suara anjing atau disebut menggonggong tersebut dikira akan menggigit Dimas. Karena suara binatang anjing itu guk-guk, maka Dimas memanggilnya atau menamai sesuai dengan suaranya guk-guk, dan Dimas mengatakan kata akal yang maksudnya nakal karena Dimas belum fasih mengatakan maka yang diucapkan hanya suku kata yang terakhir.
b. Dimas mengatakan moh cini, yang maksudnya tidak mau disini. Kata moh di sini mungkin karena lingkungan atau orang tuanya suku Jawa maka Dimas menggunakan kata moh yang dalam bahasa Indonesia dalam konteks data tersebut berarti tidak.
Menurut Skinner, anak-anak mengakusisi bahasa melalui hubungan dengan lingkungan, dalam hal ini dengan cara meniru. Dalam hubungan dengan peniruan ini, faktor yang terpenting adalah frekuensi berulangnya suatu kata atau urutan kata. Ujaran-ujaran itu akan mendapat pengukuhan sehingga anak lebih berani menghasilkan kata dan urutan kata. Dengan cara ini lingkungan akan mendorong anak untuk menghasilkan tuturan yang gramatikal dan tidak memberi pengukuhan terhadap tuturan yang tidak gramatikal.
3. Dimas berada pada tahap membuat istilah sendiri untuk menyatakan gagasannya.
Pemerolehan bahasa merupakan hasil interaksi antara kemampuan mental pebelajar dengan lingkungan bahasa (Ellis, 1986). Interaksi antara keduanya adalah manifestasi dari interaksi verbal yang aktual antara pebelajar dengan orang lain. Pendekatan interaksionisme oleh van Els (dalam Yulianto, 2007) menyebut sebagai pendekatan prosedural, di mana dalam pendekatan ini interaksi antara faktor internal dengan faktor eksternal bersifat sentral. Titik awal pendekatan ini adalah kemampuan kognitif anak dalam menemukan sruktur bahasa di sekitarnya. Faktor interna, merupakan kemampuan mental anak sangat berpengaruh. Namun, faktor lingkungan juga berperanan menentukan macam pemerolehannya, terutama leksikon. Di samping itu, Yulianto (2001) juga setuju kepada pandangan Dardjowidjojo (2005: 304) yang mengungkapkan bahwa faktor kodrati dan lingkungan berpengaruh dalam pemerolehan bahasa anak. Secara eksplisit pandangan ini sesuai dengan pandangan interaksionisme (Ellis,1986).
Menurut pandangan interaksionisme, interaksi antara faktor internal dengan faktor eksternal bersifat sentral. Titik awal pendekatan ini adalah kemampuan kognitif anak dalam menemukan struktur bahasa di sekitarnya. Baik pemahaman maupun produksi bahasa pada anak-anak dipandang sebagai sistem prosedur penemuan yang secara terus-menerus berkembang dan berubah.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar