Kamis, 09 Desember 2010

Menjaga Pandangan


Banyak buku-buku yang membahas tentang bagaimana hukum untuk menjaga pandangan anatar orang yang bukan muhrim. Tapi alangkah sulitnya merealisasikannya.

Para lelaki banyak yang beralasan, "Bukankah pandangan pertama itu di halalkan?? jadi pandang lah seorang gadis yang indah menurut mu, namun jika sudah pandangan yang kedua itu berdosa .."
"Dan bukankah saat kita berbicara kepada orang lain harusnya kita melihat orang yang menjadi lawan bicara kita .."
Astagfrllh ..

Gadhul bashar yang dalam bahasa indonesia diartikan sebagai menjaga pandangan, menjaga pandangan dalam islam sangatlah dianjurkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, dalam sebuah ayat Al quran dijelaskan, yang artinya :

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra:32).

Terbersit dalam benak di hati, “terus apa hubungannya zina dengan menjaga pandangan??” gumam dalam hati. Dalam Hadist yang di riwayatkan Oleh Abu Huaraira r.a dijelaskan:

Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, “Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin.” (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).

“Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua telinga zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya.” (HR Bukhari).

Hadist tersebut menjelaskan sedikit banyak tentang bahaya zina, dan hal tersebut dapat berawal dari pandangan seperti yang jelaskan dalam sebuah ayat alquran di bawah ini :

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS. 24:30)

Dan diperkuat dalam hadist shahih berikut :

“Wahai Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim)

Mari kita dengarkan bagaimana Ummu Salamah berkisah tentang santunnya ‘Utsman bin Thalhah dalam perjalanan mereka ke Madinah.

Sungguh, hanya Allah yang mengawasi mereka sepanjang 400 kilometer itu.

Ya. Padahal Ummu Salamah adalah salah satu wanita tercantik di MAkkah, dan ‘Utsman pun tergolong tampan.

Agaknya, ketundukkan pandangan ‘Utsman bin Thalhah, kemuliaan akhlaqnya, dan kesuciannya inilah yang membuat Rasulullah mencegah ‘Umar membunuhnya saat dia masih musyrik dan menjadi tawanan Badar.

Bahkan kemudian, beliau menetapkan hak pemegang kunci Ka’bah padanya dan keturunannya saat penaklukan Makkah. Inilah yang beliau SAW lakukan, meski ‘Ali sang menantu mulia menginginkan dan meminta kedudukan itu untuk disatukan dengan hak pemberian minum jama’ah haji yang ada pada keturunan ‘Abdul Muthalib.

Ibnu Ishaq meriwayatkan fragmen ini, dalam penggal kisah Ummu Salamah.

Dan inilah yang dituturkan Ummu Salamah :

Utsman bin Thalhah bertanya kepadaku, “hendak pergi kemana wahai putri Abu ‘Umayah?”

“Aku hendak menemui suamiku di Madinah”
“Tidak adakah seseorang yang menyertaimu?”
“Tak seorangpun, kecuali Allah dan anakku ini..”
“Demi Allah tidak selayaknya engkau dibiarkan seperti ini”, katanya.

Lalu dia menuntun tali kendali unta dan membawaku berjalan dengan cepat.

Demi Allah, aku tidak pernah bepergian dengan seorang laki-laki dari kalangan Arab yang lebih santun dari dirinya.

Jika tiba di suatu tempat persinggahan, dia menderumkan unta, kemudian dia menjauh dan membelakangiku agar aku turun. Apabila aku sudah turun, dia menuntun untaku dan mengikatnya disebuah pohon.

Kemudian ia menyingkir dan mencari pohon lain, berteduh dibawahnya sambil tidur telentang. Jika sudah dekat waktunya untuk melanjutkan perjalanan, dia mendekat ke arah untaku dan menuntunnya.

Sambil agak menjauh lagi dan membelakangiku dia berkata, “Naiklah!”

Jika aku sudah naik dan duduk dengan mapan di dalam sekedup, dia mendekat lagi dan menuntun tali kekang unta.

Begitulah yang senantiasa ia lakukan hingga ia mengantarku sampai ke Madinah.

Setelah melihat perkampungan bani ‘Amir bin ‘Auf di Quba’, dia berkata :” Suamimu ada di kampung itu. Maka masuklah ke sana dengan barakah Allah.”.

Setelah itu, ia membalikkan badan dan kembali ke Makkah.

Luar biasa, terima kasih padamu wahai ‘Utsman, yang telah mengajarkan pada kami akhlaq laki-laki sejati. Inilah spontanitas hati yang mampu membedakan mana yang halal dan mana yang tidak.

Kita sebagai umat muslim sangat di anjurkan untuk dapat menahan pandangan, apalagi jika memandang orang yang kita sukai. Pandangan yang di sertai dengan nafsu duniawi sangatlah tidak patut untuk di ikuti.

Seorang perempuan itu lebih menyukai sosok laki-laki yang dapat menjaga pandangannya, yang dapat menahan kedua panca indra nya. Sosok seperti itu lah yang di idamkan banyak perempuan untuk membimbingnya nanti kelak ke pintu surga ..
Layaknya butiran pasir di pantai
nan indah di pandang elok di nikmati
namun tahukah kau banyak materi yang tersimpan
terkadang kita bisa menemukan sesuatu yang indah
tapi tak sering juga kita menemukan sesuatu yang menyakitkan

Butiran butiran itu tak bisa dilenyapkan
itu lah yang membuat nya seimbang
jangan lah kau risau
karena ada saatnya sapuan ombak yang lembut membersihkan nya

Silih berganti banyak yang datang
namun pada akhirnya hanya satu yang akan menetap disana
satu yang memang panggilan batinnya

....................................................



Selasa, 07 Desember 2010

Kegundahan Hati


kemarin ku katakan kalau ku tak bisa mencinta
kemarin ku ungkapkan kalau ku tak bisa menerima
tapi sekarang tak bisa ku pungkiri
hati ku tlah luluh dengan sikap mu ..

tau kah kau
dulu ku sengaja tak ingin mengenal cinta
dulu ku sengaja tak ingin terjangkit virus cinta
dulu ku sengaja tak ingin sakit karena cinta
ku tekad kan dalam diri ini
ku bisa hidup tanpa cinta

tapi sekarang ..
semua itu bohong, ..
sangat mudah bagi ku menerima mu
tapi tak semudah itu ku buka hati untuk mu
mereka bilang aku manusia yang terbiasa tak punya hati ..
manusia yang yakin kalau cinta itu tidak penting ..

hari makin hari
saat saat ku lewati hari bersama mu
ku rasakan ad perubahan dalam diri ku ..
hati yang dulu beku
kini hangat bagai di aliri air dari mata air hangat hatimu

kau sangat paham kalau ku butuh pembimbing
pembimbing yang dapat menolong ku
pembimbing yang dapat melindungi ku

tapi apakah itu kamu..????


Minggu, 28 November 2010

Maafkan aku ..


apakah ini yang ku tunggu sejak lama ..??
penantian panjang di tiap malam-malam sunyi ..
balasan atas doa-doa yang ku kirim pada-Mu ..
mimpi-mipi indah yang selalu ku impikan ..

tapi aku takut
takut ada hati yang terluka
takut jika ia menangis diatas senyumku
takut denan rasanya yang tak sampai

maafkan hatiku
hati yang sudah tak peka dengan hatimu
hati yang hanya bisa membuatmu sakit
aku memang sudah mati rasa

aku memang egois
hanya mementingkan keinginanku
tapi apakah kau tahu
tlah lama ku habiskan waktu ku hanya untuk menunggumu
menunggu sesuatu yang tak kunjung kau berikan
kau yang telah perlahan-lahan menyakitiku
namun saat dia datang, kau baru menyadarinya

maaf ..
hanya maaf yang dapat ku ucapkan
bila memang kita berjodoh
ku pasti kan tetap jadi milikmu
meski itu bukan sekarang

Senin, 25 Oktober 2010

Cerita yang mengharukan ....

Beberapa hari yang lalu saya mendengar cerita dari beberapa sahabat. Mereka bercerita tentang kisah hidup seseorang yang bisa di anggap sebagai panutan dalam menjalani hidup di zaman sekarang.

Adalah seorang perempuan muslimah, yang insyaallah keimanannya tidak diragukan lagi. Umurnya sudah memasuki usia dewasa. Usia dimana wanita seumurnya sudah banyak yang memasuki mahligai rumahtangga. Usianya sudah memasuki kepala 3. Apalah lagi yang kurang dari perempuan ini. Ia salah seorang alumni dari salah satu perguruan tinggi di bidang ilmu kesehatan, sudah memiliki pekerjaan tetap, bungsu dari 4 bersaudara, dan terpenting sudah siap untk di pinang. Namun naas nya belum ada satu orang pria pun yang meminangnya.

Beberapa bulan yang lalu, beliau di berikan kepercayaan untuk menjadi salah satu pengisi materi dalam seminar yang di selenggarakan oleh pihak sekolah. Selayaknya seorang pemateri, ia melaksanakn tugasnya dengan baik. Namun ia tidak menyangka ada sepasang mata indah yang terus memperhatikan gerak-geriknya.

Mata itu miik seorang pemuda yang pada hari itu juga diberikan tanggung jawab untuk mengisi acara hiburan pada seminar itu. Pemuda yang gagah, cerdas, pandai bernyanyi dan masih sangat muda, sekitar 21 tahun.

Mungkin itu lah yang di namakan "jodoh tak akan lari kemana". Selama seminar tersebut berlangsung, sang pemuda selalu hadir. Dia juga mulai menyebarkan "antek-anteknya" hanya untuk mengetahui siapakah sebenarnya sosok perempuan yang telah berhasil menggoyahkan hatinya yang sekuat karang. Anna Khoirunnisa, itu lah nama indah yang dimiliki perempuan itu.
selang satu minggu, Arif memberanikan diri untuk menemui sang pujan hati. Pada saat itu juga ia meminang Anna untuk menjadi penamping hidupnya.

Alangkah terkejutnya sang perempuan. Orang yang belum ia kenal dengan baik telah meminangnya, apalagi jika di lihat sng pria lebih muda dari dirinya. Subhanallah !!
Satu minggu waktu yang diberikan untuk saling mengenal dengan keluarga masing-masing, waktu yang diberikan kepada masing-masing untuk bertanya kepada Sang Pencipta, benarkah ia jodohku. Setelah satu minggu berjalan, terciptalah keyakinan antara kedua belah pihak bahwa ini memang takdir Yang Maha Kuasa. Maka di tentukanlah hari bahgia untuk menggelar walimatul 'ursy.

Dan sekarang, sepasang suami istri yang sudah sah telah melaluinya dengan bahagia. Meskipun perbedaan usia antara mereka, namun itu semua terhapusakn oleh rasa percaya kepada Allah bahwa jodoh hanya Dia yang menentukan.

Semoga cerita ini bisa memberikan kita inspirasi bahwa kalau memang jodoh apapun perbedaannya pasti akan hilang.

Minggu, 24 Oktober 2010

morfem

Linguistik adalah suatu ilmu yang mempelajari bahasa secara ilmiah. Ilmu linguistik mempunyai objek yang jelas, yaitu bahasa manusia. Bahasa mempunyai peranan yang sangat penting dalam interaksi sosial. Sesuatu yang dialami, dihayati, dirasakan, dan dipikirkan oleh seseorang dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa. Bahasa yang dipakai manusia untuk berinteraksi mempunyai bentuk yang bermacam-macam. Bahasa terbentuk dari hasil konvensi dalam masyarakat pengguna bahasa. Untuk itu, ilmu linguistik mempunyai metode yang beragam untuk mempelajari bahasa tersebut dengan berbagai tujuan.

Bahasa senantiasa mengalami perkembangan. Dalam hal ini linguistik berperan untuk mendeskripsikan suatu sistem bahasa. Linguistik juga berperan dalam memprediksi perkembangan yang terjadi pada suatu bahasa, sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam penggunaan bahasa dapat segera diperbaiki.

Dalam linguistik terdapat bidang-bidang ilmu yang membentuk tataran atau hierarki bahasa, yaitu fonologi, sintaksis, dan morfologi. Fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari bunyi-bunyi suatu bahasa tertentu menurut fungsinya untuk membedakan makna leksikal dalam bahasa tersebut. Sintaksis adalah bidang linguistik yang menyelidiki semua hubungan antar kata dan antar frase dalam kalimat. Sedangkan yang dimaksud morfologi adalah bidang linguistik yang mempelajari susunan bagian-bagian kata secara gramatikal.

Kita dapat mempelajari proses-proses terjadinya kata, bentuk kata, dan fungsinya dengan mempelajari morfologi. Dalam morfologi dikenal istilah morfem. Morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil (Harimurti Kridalaksana, Kamus Linguistik, 2001: 141). Pembahasan kali ini akan difokuskan pada bagian dari bidang ilmu morfologi yang membahas masalah morfem dan proses-proses morfemis dalam suatu bahasa.

Seperti yang telah dijelaskan di atas, morfem adalah satuan bahasa terkecil yang maknanya relatif stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian bermakna yang lebih kecil. Untuk lebih mengenal dan memahami morfem, dijabarkan prinsip-prinsip pengenalan morfem sebagai berikut:

1. Bentuk-bentuk yang berulang-ulang muncul dan mempunyai pengertian sama, termasuk morfem yang sama. Contoh: menjalankan, berjalan, perjalanan, dijalankan.
2. Bentuk-bentuk yang mirip (hampir sama) yang mempunyai pengertian yang sama termasuk morfem yang sama, apabila kondisinya atau sebab perbedaanya dapat diterangkan secara fonologis. Contoh: impossible, inconventional, irreguler.
3. Bentuk-bentuk yang mirip (hampir sama) yang mempunyai pengertian sama, termasuk morfem yang sama, apabila kondisinya atau sebab perbedaanya dapat diterangkan secara morfogis. Contoh:beranjak, belajar, beternak.
4. Bentuk-bentuk yang sama merupakan morfem yang berbeda apabila berbeda pengertiannya. Di dalam semantik bentuk semacam ini disebut homonim. Contoh: bisa ular, bisa membaca.
5. Bentuk-bentuk yang sama merupakan morfem yang sama, apabila pengertiannya berhubungan dengan distribusi yang berbeda. Di dalam semantik bentuk semacam ini disebut polisemi. Contoh: kepala sekolah, kepala kantor, sakit kepala.
6. Apabila suatu bentuk terdapat di dalam kombinasi satu-satunya dengan bentuk lain yang pada gilirannya dapat berdiri sendiri atau dalam kombinasi dengan bentuk-bentuk lain, maka bentuk tersebut dapat disebut morfem juga (morfem unik). Contoh: beras petas, sayur mayur.
7. Apabila di dalam suatu deretan struktur terdapat perbedaan yang tidak terwujud (berupa kekosongan), maka kekosongan itu dianggap morfem kosong (morfem zero).[1]
Secara struktur, morfem dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu morfem bebas, terikat; asal, imbuhan; utuh, terbagi.[2]

Morfem dibedakan sebagai morfem bebas dan morfem terikat. Morfem bebas dapat “berdiri sendiri”, yaitu bisa terdapat sebagai suatu “kata”, sedang morfem terikat tidak terdapat sebagai kata tetapi selalu dirangkaikan dengan satu atau lebih morfem yang lain menjadi satu kata.[3] Contoh: benci, minum, dan satu merupakan morfem bebas, sedangkan ter- dalam tercipta adalah morfem terikat.

Bentuk bebas biasanya mempunyai arti leksikal, sedangkan bentuk terikat biasanya tidak mempunyai arti leksikal namun mempunyai arti gramatikal. Ada juga bentuk terikat yang mempunyai arti leksikal. Bentuk bebas yang tidak mempunyai arti leksikal disebut partikel. Bentuk terikat yang mempunyai arti leksikal disebut klitik.[4]

Selanjutnya morfem dibedakan menjadi morfem asal dan imbuhan. Morfem asal adalah morfem yang berupa kata dasar yang dilekati imbuhan. Sedangkan imbuhan tersebut disebut sebagai morfem imbuhan. Misalnya dalam kata bermalam, malam adalah morfem asal dan ber- adalah morfem imbuhan.

Morfem dibedakan lagi menjadi morfem utuh dan morfem terbagi. Contohnya kata sambung sebagai kata dasar utuh. Kata kesinambungan terdiri atas imbuhan terbagi ke-।-an dan morfem pradasar (morfem yang membutuhkan pengimbuhan atau pengklitikan atau pemajemukan untuk menjadi bentuk bebas): sinambung, terdiri atas sambung yang menjadi terbagi karena adanya imbuhan yang berupa infiks -in-.[5]
MODEL BELAJAR BAHASA

A MODEL PEMBELAJARAN MENURUT PARA AHLI

Ada beberapa model pembelajaran menurut para ahli, yakni sebagai berikut:
1. Model Interaksi Sosial
Hampir sama dengan model pembelajarn menurut kontekstual (CTL) yaitu suatu proses pembelajaran yang dilakukan oleh siswa dengan semua hal kejadian yang ada dalam kenyataan hidup diingkungan sekitarnya. Model ini berupaya untuk memfasilitsi siswanya untuk mencari, mengolah dan menemukan pengalaman belajar yang konkrit.

2. Model Pengolahan Informasi
Yaitu susatu proses belajar yang dilakukan oleh siswa untuk mencari dan memperoleh informasi dari orang yang satu dengan orang lain.

3. Model Personal Humanistik
Yaitu suatu proses yang sesuai dengan kondisi belajar, yaitu jika kondisi pelaksanaan belajar siswa itu mendukung maka akan lebih mudah menerima pembelajaran jika dibanding dengan kondisi belajar yang tidak mendukung.

4. Model Modifikasi Tingkah laku
Hampir sama dengan model pembelajaran menurut Gerlach dan Elly serta Jerold E. Kemp, yaitu suatu proses belajar yang dilaksanakan dari suatu aktivitas untuk menentukan tujuan kemudian menganalisis karakter siswa tersebut dari tingkah laku yang buruk hingga ke tingkah laku yang baik.

B. KOMPONEN-KOMPONEN PEMBELAJARAN

Pembelajaran merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Komponen-komponen tersebut meliputi:
a. Tujuan / Kompetensi
Seorang guru harus memiliki tujuan utama agar didalam proses belajarnya untuk memperoleh hasil yang baik dan peserta didiknya paham dengan apa yang telah disampaikan oleh guru.

b. Materi
Yaitu guru harus memiliki suatu materi atau bahan yang mudah untuk memahami dan dipahami oleh para siswanya.

c. Metode
Seorang guru harus memiliki metode atau cara pembelajaran, metode yang digunakan antara lain: metode diskusi, ceramah / satu arah, atau dua arah.

d. Evaluasi
Guru harus mengevaluasi siswa, agar siswa lebih dapat memahami materi yang belum diketahui.

Apabila anatara pendekatan, strategi metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka akan terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dalam kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus/bingkai dari penerapan dengan satu pendekatan, motode dan teknik pembelajaran.

C. CIRI KHAS SISTEM PEMBELAJARAN

Ada tiga ciri khas dalam sistem pembelajaran, seperti yang dikemukakan Oemar Hamalik yaitu:
1. Rencana
Ialah perataan ketenagaan, material dan prosedur yang merupakan unsur-unsur sistem pembelajaran dalam suatu rencana khusus.

2. Kesalingtergantungan
Ialah antara unsur-unsur dalam sisitem pembelajaran yang serasi dalam keseluruhan. Tiap unsur bersifat esensial dan masing-masing memberikan sumbangan kepada sistem pembelajaran.

3. Tujuan
Sistem pembelajaran memiliki tujuab tertentu yang hendak dicapai, seperti sistem transportasi, sistem komunikasi, pemerintahan semuanya itu memiliki tujuan.

D. VARIABEL MODEL BELAJAR BAHASA

Menurut Stern (1983: 337-341) dalam mempelajari model bahasa terdapat lima variabel yang perlu diperhatikan:
a. Konteks sosial

Konteks sosial dalam model belajar bahasa sangat memperngaruhi karakteristik si terdidik dan kondisi belajar. Beberpa faktor yang berhubungan dengan konteks sosial adalah faktor-faktor ekonomi, buday dan bahsa yang juga sangat memeprngaruhi proses belajar bahasa.

Jika seorang anak yang tingkat ekonominya mencukupi pastilah orangtuany mendidik anak dan berusaha agar memperoleh pendidikan dan penguasaan yang lebih baik dibanding dengan anak yang berstatus ekonomi kurang. Tidak hanya faktor ekonomi, dalam faktor budaya anak yang tumbuh di lingkungan yang baik dan sehat pastilah bahasa yang ia gunakan lebih baik dibanding dengan anak yang tinggal di lingkungan yang buruk.

b. Karakteristik si terdidik

Terdapat tiga hal yang harus diperhatikan:
1. Karakteristik yang berkenaan dengan kemampuan awal / prerequisite skills, seperti kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotorik, daya kreativitas, dsb.
Anak yang memiliki kemampuan intelektual yang tinggi pasti akan lebih mudah belajar bahasa. Kemampuannya dalam berfikir dan mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan bahasa tentu akan berbeda dengan anak yang berintelegensi rendah.

2. Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial (sosiocultural) . Hal ini berhubungan dengan kepekaan atau sensitivitas siswa dalam menghadapi berbagai lingkungan yang berbeda.
Anak dapat membedakan kapan situasi harus menggunakan bahasa resmi atau tidak.

3. Karakteristik yang berkenan dengan perbedaan kepribadian, seperti sikap, perasaan, minat, dll.
Anak manusia bersifat “unik”. Unik disini sangat beragam namun dititik beratkan pada pernyatan bahwa tidak ada manusia yang sama. Sikap, perasan, minat, dll tentu berbeda-beda. Dari penggunaan bahasanya saja maka dapat dilihat kepribadiannya.

c. Kondisi belajar

Dalam proses belajar, kondisi belajar sangat menentukan. Kondisi belajar yang nyaman dan mendukung akan sangat membantu. Permasalahan yang sering di alami adalah karena budaya dan struktur geografis yang beranekaragam. Khususnya bahasa, anak-anak mengalami kesulitan dalam belajar bahasa. Hal ini disebabkan karena mereka harus menggunakan dua bahsa yang berbeda. Disekolah harus menggunakan bahasa Indonesia sedangkan di lingkunngan rumah menggunakan bahasa ibu atau bahasa setempat.

d. Proses belajar

Belajar tentunya membutuhkan proses. Beberapa hal yang harus dipenuhi agar proses belajar berjalan dengan baik yaitu:
1. Ada tujuan yang dicapai
2. Ada bahan / materi
3. Ada siswa
4. Ada guru
5. Ada metode
6. Ada situasi
7. Ada penilaian

Dalam proses belajar, berkaitan dengan strategi, teknik dan pelaksanaannya. Anak-anak dapat menentukan sediri metode apa yang bagus dalam proses belajar. Anak diberi pengarahan agar dapat memahami berbagai keterampilan berbahasa.

e. Hasil belajar

Hasil belajar dapat diperoleh dari proses belajar. Hal ini dapat dilihat dari kemampuan peserta didik dalam menguasai materi yang diberikan melalui penampilannya. Jika seorang anak telah melalui proses belajar untuk memahami bagaimanakah penggunaan kaidah bahasa indonesia yang baik dan benar. Dinyatakan baik, jika penggunaannya sesuai dengan kaidah atau ketentuan yang berlaku dan dinyatakan benar jika menggunakan bahasa indonesia sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berlangsung.

Hasil belajar tidak hanya bisa dilihat dari laporan penilaian (rapor) tapi juga dari kecakapannya berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

F. MODEL BELAJAR BAHASA

Belajar bahasa adalah suatu proses atau usaha untuk memperoleh pengetahuan atau keterampilan berbahasa. Dalam mempelajari bahasa, kita dapat menggunakan beberapa model pembelajaran yang telah ada. Adapun model pembelajaran yang paling tepat untuk digunakan dalam mempelajari bahasa adalah model pembelajaran interaksi sosial atau CTL dan model pembelajaran pengolahan informasi. Kedua model pembelajaran tersebut menugaskan siswa untuk aktif dalam memperoleh pelajaran dari orang yang satu dengan orang yang lain dan membuat siswa untuk berfikir dengan menghubungkan proses pembelajaran dengan pengalaman hidup. Siswa harus mencari, mengolah dan menemukan pengalaman belajar yang konkrit.